NILAI –
NILAI YANG TERDAPAT PADA NOVEL
THE OLD MAN
AND THE SEA KARYA ERNEST HEMINGWAY
Judul
Novel : The Old Man and
The Sea
Nama
Pengarang : Ernest Hemingway
Penerbit : NARASI
Tahun
Terbit : 2015
Halaman : 163
Penerjemah : Deera Army Pramana
The Old Man
and the Sea adalah karya Ernest Hemingway. Ia merupakan salah satu pengarang
Amerika Serikat paling terkenal sepanjang zaman. Karena novel karyanya ini
telah meraih berbagai penghargaan. Diantaranya Hadiah Publitzer Prize 1953 dan
Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters. Ernest juga
meraih penghargaan bergengsi Hadiah Nobel Prize pada tahun 1954 berkat novel
ini. Selain itu, kisah Lelaki Tua dan Laut telah berulang kali difilmkan.
The Old Man
and the Sea menjadi karya yang fenomenal karena mengisahkan tentang petualangan
serta perujuangan seorang tua dalam menangkap ikan besar di tengah Samudera
Atlantik. Ada banyak pesan moral maupun nilai-nilai yang bisa diambil dari
novel ini, berkaitan dengan persahabatan, perjuangan hidup serta kegigihan
dalam bekerja.
Dengan
demikian, dapat saya ambil beberapa nilai-nilai yang terkandung di dalam novel
The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway, sebagai berikut:
1.
Nilai Moral
Nilai moral
yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan akhlak/perangai atau etika
pada tokoh karya sastra. Nilai moral dalam cerita bisa jadi nilai moral yang
baik, bisa pula nilai moral yang buruk/jelek.
Nilai moral
yang terkandung dalam novel ini yaitu, Santiago yang menghargai adanya makhluk
hidup selain manusia. Dia mencintai binatang itu seperti mencintai dirinya
sendiri dan dia sudah menganggapnya seperti teman. Terlihat pada kutipan di
bawah ini.
“Mungkin jika aku bisa memperkuat tegangan
kail sedikit saja, itu akan menyakitkannya dan ia akan melompat.” (Halaman
67)
“Tinggallah di rumahku jika kau suka, wahai
burung,” katanya. “Maaf aku tak bisa menaikkan layar dan membawamu bersama
embusan angin kecil yang mulai datang. Tapi aku bersama orang teman.” (Halaman
70)
“Andai saja aku bisa memberi makan ikan itu,
pikirnya. Dia adalah saudaraku.” (Halaman 75)
Nilai moral
selanjutnya yaitu, tokoh Santiago yang memiliki sifat rendah hati. Yang tidak
mau membanggakan kemampuannya. Terlihat pada kutipan di bawah ini.
“Ia
begitu sederhana, namun ia heran sejak kapan ia memiliki kerendahan hati
seperti itu. Tapi ia tahu ia memilikinya, dan ia tahu itu bukanlah hal tercela
dan takkan mengikis harga dirinya sebagai laki-laki sejati.” (halaman 16)
“Dan
pemancing terbaik adalah kau. Tidak. Aku kenal orang-orang yang lebih baik.”
(halaman 28)
Nilai moral
selanjutnya yaitu, tokoh Santiago yang mempunyai sifat pemberani. Dia pergi
melaut hanya sendiri saja tanpa ditemani siapapun, walaupun sudah ada yang mau
menemaninya. Terlihat pada kutipan,
“Hadapi mereka,” katanya. “Aku akan melawan
mereka sampai sampai aku mati.” (Halaman 149)
“Kau pergilah bersama perahu yang beruntung.
Dan tetaplah bersama mereka.” (halaman
12)
Nilai moral
selanjutnya yaitu, tokoh lelaki tua dan bocah lelaki yang saling sayang
menyayangi satu sama lain, walaupun mereka tidak ada ikatan darah.
“Lelaki tua itu menatapnya dengan matanya
yang terbakar mentari, namun tatapannya penuh percaya diri sekaligus rasa
sayang.”(halaman 15)
“Jika kau ini anakku, akan kubawa kau
berlayar denganku dan akan kupertaruhkan semuanya,” katanya. “Tapi kau bukan
anakku, kau punya orangtua, dan kau sangat beruntung.”(halaman 15)
2.
Nilai
Keagamaan
Nilai
keagamaan yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan
aturan/ajaranyang bersumber dari agama tertentu.
Nilai
keagamaan yang terdapat pada novel ini
yaitu, tokoh Santiago yang mempercayai tuhannya tidak akan kemana-mana. Dia
percaya bahwa tuhannya akan selalu mendampinginya. Dan dia akan selalu meminta
bantuan kepada tuhannya. Terlihat pada
kutipan.
“Ia tak mungkin pergi,” katanya. “Kristus
tahu ia tak mungkin pergi. Ia hanya berbalik arah. Mungkin ia pernah terpancing
sebelumnya dan ia mengingat sebagian tentang itu.” (Halaman 52-53)
“Kau merasakannya sekarang, ikan,” katanya.
“Dan begitu pula aku. Tuhan tahu itu.” (halaman 70)
“Tuhan bantulah aku menghilangkan kram di
tanganku ini.” (halaman 75)
“Aku memang tak taat agama, tapi akan aku mengucapkan sepuluh Bapa Kami
dan sepuluh Salam Maria karena aku harus menangkap ikan ini. Aku berjanji akan
menempuh perjalanan ibadah ke Virgin Of Cobre jika aku berhasil menangkapnya.
Itu adalah janjiku.” (halaman 82)
“Tuhan bantu aku untuk bisa bertahan. Aku akan merapalkan seratus Bapa
Kami dan seratus Salam Maria. Tapi aku tak dapat mengucapkannya sekarang.”
(halaman 111-112)
3.
Nilai Sosial
Nilai sosial
yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antara individu dalam
masyarakat pada karya sastra.
Nilai sosial
yang terdapat pada novel ini yaitu,tokoh lelaki tua yang diasingkan dari
masyarakat, karena menurut masyarakat lelaki tua itu merupakan salao yaitu bentuk terburuk dari
ketidakberuntungan. Terlihat pada kutipan di bawah ini.
“Orang tua si bocah memberitahunya bahwa
lelaki tua itu sekarang telah menjadi salao, yang merupakan bentuk terburuk
dari ketidakberuntungan.” (halaman 10)
Nilai sosial
selanjutnya yaitu, hubungan antara tokoh lelaki tua dan bocah lelaki yang
saling sayang menyayangi satu sama lain, walaupun mereka tidak ada ikatan
darah.
“Lelaki tua itu menatapnya dengan matanya
yang terbakar mentari, namun tatapannya penuh percaya diri sekaligus rasa
sayang.”(halaman 15)
“Jika kau ini anakku, akan kubawa kau
berlayar denganku dan akan kupertaruhkan semuanya,” katanya. “Tapi kau bukan
anakku, kau punya orangtua, dan kau sangat beruntung.”(halaman 15)
4.
Nilai
Pendidikan
Nilai
pendidikan adalah nilai yang terdapat di dalam karya sastra dan memberikan
manfaat serta dapat menambah wawasan bagi pembaca.
Nilai
pendidikan yang terdapat pada novel ini yaitu, tokoh Santiago yang berhasil
mendapatkan ikan yang sangat besar. Masyarakat yang telah menjauhkan diri
darinya, sekarang malahan telah memujinya karena mendapatkan ikan yang sangat
besar, walaupun itu hanya tinggal tulang-belulangnya saja. Jadi, jangan terlalu
mudah menilai orang itu, kalau kita hanya mengetahui dari fisiknya saja.
Terlihat pada kutipan,
“Sungguh ikan yang luar biasa,” si penilik
berkata. “Belum pernah ada ikan seperti ini.” (halaman 158)
Selanjutnya
yaitu, tokoh lelaki tua yang mempunyai prinsip untuk mendapatkan kepercayaan
dirinya. Terlihat pada kutipan.
“Tapi lelaki tak diciptakan untuk kalah,”
katanya. Seorang lelaki bisa dihancurkan tapi tidak bisa dikalahkan.” (halaman
133)
Demikianlah
penjabaran saya mengenai analisis nilai –
nilai yang terdapat pada novel The Old Man And The Sea karya
Ernest Hemingway. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita ke depannya
menjalani hidup dengan baik untuk menuju kesuksesan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar