Sabtu, 05 November 2016

Artikel Ilmiah: Kritik Sosial Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami: Tinjauan Sosiologi Sastra




KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL BILANGAN FU KARYA AYU UTAMI:
TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA

Oleh:
Gusmawarni
Program Studi Sastra Indonesia
FBS Universitas Negeri Padang

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kritik sosial penyebab terjadinya kritik sosial. Kajian teori yaitu: 1) Hakikat novel sebagai karya sastra; 2) Novel dalam pandangan sosiologi sastra; 3) Kritik sosial dalam kajian sosiologi sastra. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Data dikumpulkan dengan langkah-langkah, yaitu: 1) Melakukan studi pustaka;  2) Membaca dan memahami novel; 3) Mencatat peristiwa. Kemudian dianalisis:       1) Mengklasifikasikan unsur-unsur novel; 2) Mengklasifikasikan peristiwa-peristiwa; 3) Menginterprestasikan kritik sosial; 4) Melaporkan hasil penelitian. Dapat disimpulkan bahwa, bentuk kritik sosial terdiri dari norma-norma, dan tokoh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat; penyebab terjadinya kritik sosial adalah: ketimpangan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, dan wewenang dan politik.
Kata kunci: kritik sosial, tinjauan sosiologi sastra

PENDAHULUAN
Bilangan Fu menceritakan tentang kehidupan budaya jawa dengan corak keagamaan jawa, sehingga alur ceritanya berisi kritik terhadap pelakasaan keagamaan tersebut. Pemilihan novel Bilangan Fu dalam penelitian ini bahwa umum karya sastra berisikan kritik sosial.
Permasalahan sosial dalam novel Bilangan Fu disampaikan melalui tokoh-tokoh yang multiperan. Hal ini dapat dilihat jelas pada penokohan tokoh utama dalam berinteraksi dengan tokoh-tokoh lain, serta kritik sosial yang terjadi dalam novel tersebut. Karena itu adanya novel ini dapat menambah wawasan dan membuka kembali kehidupan yang berkembang saat ini, terutama bagi peneliti sendiri, ataupun penikmat sastra.
Sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1988:8). Menurut Atmazaki (2005:28) secara umum karya sastra terbagi atas tiga yaitu: prosa, puisi, dan drama. Karya sastra berbentuk prosa yaitu novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menghadirkan gambaran kehidupan manusia yang dituangkan oleh pengarang dalam bentuk tulisan.
Menurut Clara Reeve (dalam Atmazaki, 2005:39) novel merupakan gambaran kehidupan dan perilaku nyata pada saat novel itu ditulis. Abrams (dalam Atmazaki, 2005:40) mengatakan sebuah karya bisa dikatakan novel apabila ceritanya memberi efek realitas dengan mempresentasikan karakter yang kompleks dengan motif yang bercampuran dengan kelas sosial.
Novel dibangun oleh unsur instrinsik dan ekstrinsik. Unsur instrinsik adalah unsur-unsur yang berada di dalam novel itu sendiri seperti tema dan amanat, alur/plot, penokohan dan perwatakan, latar, sudut pandang, pusat pengisahan, dan gaya bahasa, sedangkan unsur ekstrinsik adalah segala unsur yang berada di luar karya sastra novel tersebut.
Sosiologi adalah ilmu yang membahas tentang masyarakat. Selo Soemardjan dan soeleman Soemardi mengatakan sosiologi ialah mempelajari struktur sosial dan proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial masyarakat (dalam Soekanto, 2005:20). Novel bilangan fu merupakan novel yang mengangkat tentang spritualisme yang berkembang dalam masyarakat Jawa. Pendekatan pada novel ini berdasarkan pendapat Endraswara (2003: 93) bahwa pendekatan sosiologi sebagai dokumen sosiobudaya memiliki dua segi yakni hubungan dengan aspek sastra sebagai refleksi sosiobudaya dan mempelajari soosiobudaya terhadap karya sastra.
Karya prosa fiksi pada penelitian ini adalah dokumen sosial. Di dalam novel terdapat adanya realitas sosial yang terjadi sehingga novel layak disebut sebagai cerminan masyarakat dalam zamannya. Unsur-unsur realiatas masyarakat pada novel dengan sendirnya membentuk dan menggambarkan tatanan nilai yang terjadi dalam masyarakat.
Penelitian ini akan mengungkap spritualisme yang berkembang dalam masyarakat Jawa. Nilai-nilai spritualitas yang akan dikaji meliputi bagaimana spritualisme agama ketuhanan, spritualisme agama penyembah roh, dan spritualisme agam penyembah binatang yang ada pada masyarakat Jawa.
Penelitian ini akan mengungkap masalah-masalah sosial yang terjadi di dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami, maka pendekatan yang digunakan untuk menganalisis data dalam memperoleh gambaran tentang kritik sosial adalah pendekatan sosiologis. Pendekatan sosiologis adalah pendekatan yang digunakan untuk memahami latar belakang kehidupan sosial dan budaya dalam suatu masyarakat.
Unsur-unsur sosial yang akan dideskripsikan yaitu: 1) nilai-nilai sosial; 2) interaksi sosial; 3) norma-norma sosial; dan 4) kelompok-kelompok sosial, kekuasaan dan wewenang. Wujud dari aspek sosial yang terjadi pada masa penulisan novel ini akan diteliti sesuai dengan aspek-aspek sosial yang terdapat dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami.
Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu: 1) mendeskripsikan bentuk-bentuk kritik sosial yang terdapat dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami; 2) mendeskripsikan penyebab terjadinya kritik sosial dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami.

METODE PENELITIAN
Teknik pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) melakukan studi pustaka, terutama referensi yang menunjang ke penelitian; (2) membaca dan memahami novel dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami; (3) mencatat peristiwa yang berhubungan dengan kritik sosial dalam kehidupan masyarakat.
Dalam menganalisis data dalam novel dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami.adalah dengan cara sebagai berikut: (1) mengklasifikasikan peristiwa-peristiwa yang menyimpang dari aspek-aspek sosial yang dilakukan oleh setiap tokoh dalam novel tersebut; (2) menginterpretasikan kritik sosial dan menghubungkan dengan konsep sosial yang ada dalam masyarakat; (3) membuat simpulan dari hasil interpretasi terhadap kritikan perilaku tokoh yang menyimpang;  (4) melaporkan hasil penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Temuan penelitian yang terdapat dalam novel dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami ini dapat dideskripsikan melalui tiga pembagian. Pembagian ini terdiri dari dari: (1) Unsur-unsur novel yang mengungkapkan kritik sosial; (2) bentuk kritik sosial dalam novel dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami; (3) penyebab dari kritik sosial dalam novel dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami.

Unsur-Unsur Novel Yang Mengungkapkan Kritik Sosial
Pengarang menggambarkan beberapa orang tokoh dalam novel Bilangan Fu ini. Tokoh utama adalah “Sandi Yuda”, dikatakan tokoh utama karena dalam setiap penceritaan tokoh utama “Aku” selalu muncul. “si iblis”, seorang pemanjat tebing dan petaruh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat. Seperti terdapat padakutipan berikut ini: “kelingkingmu pasti tumbuh lagi. Tidak sempurna, tapi tumbuh lagi. Percayalah. Taruhan” kataku tanpa pikir panjang. Di usia itu memang anak muda tidak perlu pikir      panjang” (Utami, 2008:6)
Pengarang menceritakan bahwa tokoh aku adalah seorang yang suka bertaruh, bahkan dalam hal-hal yang musykil sekalipun. Terlihat pada kutipan berikut: “Taruhan, ayo. Lelaki itu tidak mau ke dokter. Kalau lelaki itu mati, berarti sesajen itu        tidak ada apa-apanya. Tak bisa melindungi dia. Kalau dia selamat. Berarti sajen itu sakti, kamu pegang yang mana? Kataku” (Utami, 2008:68)
Pengarang juga menggambarkan tokoh tambahan yaitu:
Pertama, Parang Jati. Parang Jati merupakan seorang aktivis alam yang berkaitan erat dengan geologi, dan sangat membenci pemanjatan kotor yang merusak alam seperti memaku dan member tebing. Terlihat pada kutipan berikut: “aku menyahut dengan naada memperolok, “mana ada clean climbing yang lokal. Tekonologi itu mahal bung”. Matanya seperti terbuka. Aku mengagumi kebeninganmya. Jadi kalian selalu memaku dan megebor tebing? Suaranya yang heran justru membuat aku menjadi heran” (Utami, 2008:35).
Kedua, Marja. Seorang gadis bertubuh kuda feji dan berjiwa matahari. Seorang mahasiswa DKV ITB jurusan desain. Marja merupakan kekasih Sandi Yuda. Marja mempunyai sifat cepat bersahabat dan santun. Terbukti pada kutipan berikut. “kamu hebat sekali, ya! Keren!, ia juga membagi perhatian kepada Dayang Sumbi, mengatakan kepadanya bahwa ia cantik sekali, sungghuh seperti suzana dimasa muda. Marja menbagi perhatian dengan santun sekali, seolah-olah wanita itu adalah istri sahabatku” (Utami, 2008:210).
Ketiga, Pete. Pete adalah lawan Yuda didalam kelompoknya, dalam hal yang beda pendapat, bagi Pete dalam pemanjatan lebih mengutamakan keamanan. Terlihat pada kutipan berikut. “pasanglah bor untuk gantungan sedekat mungkin yang mausk akal. Demikian agar kita tidka mempersulit orang lain. Tuhan saja tidak membikin peraturan yang musykil bagi umatnya. Masa kita mau melebhi DIA” (Utami, 2008:71).
Keempat, Oscar. Oscar adalah salah satu teman sepemanjatan. Dalam hal keamanan pemanjatan dia telah lebih berpihak kepada Pete. Terlihat pada kutipan berikut. “ Kau telah tujuh meter di atasku Yuda! Dan medan di atasmu bukan lelucon. Dan jika kau jatuh sekarang, Yuda, percayalah Heksentrik ini retas. Dan jika batu terjepit tempat kau pasang tali ambin yang kau namai pengaman emas ini juga rumpal oleh hentakan, maka selamat berhadapan dengan nasib” (Utami, 2008:74)
Kelima, Kabur Bin Sasus. Kabur Bin Sasus adalah seorang dukun desa yang dipercaya menganut ilmu hitam dan sakti oleh masyarakat setempat. Dia merupakan orang yang tidak percaya dengan pengobatan medis. Terlihat pada kutipan berikut. “Soal nyawa, itu urusan saya dengan gusti Allah. Lalu lelaki itu melakukan sesuatu yang tak kupercaya. Ia menunduk dalam-dalam hingga kepalanya mencapai luka. Sebuah kelenturan seorang pesilat” (Utami, 2008:67).
Keenam, Kupu-Kupu. Kupu-Kupu adalah saudara sekandung Parang Jati. Merupakan orang yang sangat menentang pada bentuk syirik yang terjadi di masayrakat. Terlihat pada kutipan berikut.   “ Baiklah, kami diwajibkan untuk memeperingatkan Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu untuk kembali ke jalan Allah. Kabur Bin Sasus adalah pamanku. Kusangkal dia. Selalu dia telah bersekutu dengan iblis. Tapi, kini seluruh desa hendak pula bersekutu dengan iblis” (Utami, 2008:143).
Dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami terdapat beberapa latar tempat seperti nama nama kota atau daerah tempat peristiwa berlansung yang disebut secara eksplisit dan secara implicit. Secara garis besar, Sewugunung merupakan latar tempat yang dominan dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Sedangkan latar tempat yang lain adalah kota Bandung. Sebagian besar cerita dala novel ini terjadi di Sewugunung. Sewugunung merupakan tempat Sandi Yuda dan teman-temannya melakukan ekspedisi pemanjatan tebing.
Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Latar waktu digunakan dalam novel sangat bervariasi. Pagi hari, terlihat pada kutipan berikut:  “pagi harinya ia telah tentang kembali, seperti seorang istri yang berselingkuh denganku secara binal satu malam dan esoknya berlagu seolah tak kenal” (Utami, 2008:19). Tanggal 25 September, terlihat pada kutipan berikut: “ Tanggal 25 September itu adalah hari ketika aku bertemu dengan seseorang yang tak bisa kulupakan” (Utami, 2008:29). Malam Jumat Kliwon,  terliahat pada kutipan berikut: “Aku menatap penanggalan di dinding dan kutemukan bahwa malam telah beralih Jumat Kliwon. Bagi orang Jawa, hari bersalin di tempat gelap” (Utami, 2008:167).
Bentuk Kritik Sosial Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami
Analisis kritik sosial berdasarkan norma-norma sosial
Pertama, norma agama. Di dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami terdapat banyak penyimpangan agama yang terlihat pada kutipan berikut: “Baiklah, kami diwajibkan untuk memperingatkan Bapak-bapak dan Ibu-ibu untuk kembali ke jalan Allah. Kabur Bin Sasus adalah pamanku. Kusangkal dia. Sebab dia telah bersekutu dengan iblis. Tapi, kini seluruh desa hendak pula bersekutu dengan iblis” (Utami, 2008:143)
Kedua, norma susila. Norma kesusilaan menyangkut dengan pelanggaran terhadap agama serta hak-hak seorang yang dilecehkan. Terbukti pada kutipan berikut: “Lelaki yang telah jauh lebih tua itu berbicara dengan bahasa Jawa halus, lalu mereka bercakap-cakap dengan karma. Samar-samar aku menangkap usaha pria itu untuk mengingatkan si anak muda agar menghargai suasana duka agar bersikap santun. Kira-kira ia berkata, “siapakah kita ini sehingga berhak menghakimi yang menjadi hak Allah” (Utami, 2008:96);
Ketiga, norma hukum. Norma hokum merupakan aturan dalam masyarakat, dan bagi siapa yang melanggarnya akan mendapat sanksi atau hukuman. Pengarang menceritakan tokoh Parang Jati yang menjadi korban kejahatan yang mengerikan. Terlihat pada kutipan berikut: “Parang Jati tanpa pelindung. Orang-orang menelanjangi dia dan si tuyul. Aku menghardik tapi mereka tak mendengarkan” (Utami, 2008:499).
Keempat, norma kesopanan. Norma kesopanan merupakan salah satu ciri dari perbuatan manusia yang menentukan baik atau buruknya mereka. Terlihat pada kutipan berikut: “Maafkan.  Aku ngelantur. Tapi, pada usia awal duapuluhan itu pikiranku pun pendek dan karena kependekan pikiran itulah aku membenci televisi secara sempit, listrik secara lebih luas, dan kota secara lebih luas lagi” (Utami, 2008:26-27).

Analisis kritik sosial berdasarkan nilai-nilai sosial
Nilai-nilai sosial ditentukan oleh masyarakat yang hidup di suatu tempat. Masyarakat tersebut menentukan sendiri hukuman yang diberikan kepada pelanggar yang ada. Hukuman dapat berupa tindakan ataupun kucilan dari masyarakat. Lihat kutipan berikut: “Ia mengumumkan bahwa pamannya, lelaki yang mati itu, tidak pantas disembahyangkan dan takboleh dimakamkan secara Islam. Sebab, lelaki itu telah musyrik” (Utami, 2008:96). Kutipan tersebut menggambarkan adanya kritik sosial terhadap pelanggaran terhadap norma di tengah masyarakat.
Kritik sosial berdasarkan nilai-nilai juga terlihat pada kutipan berikut: “matanya masih separuh mendelik dan mulutnya berjejak seringai. Kulitnya keunguan, bercarutan bopeng dan bintil-bintil. Barangkali sejak hidupnya ia berjerawat atau bertahilalat, atau pernah terkena cacar (yang anehnya tak sempat kuperhatikan saat berpapasan dulu)” (Utami, 2008:93). Kutipan tersebut menggambarkan kritik sosial yang muncul didasarkan kenyataan.
Analisis kritik sosial berdasarkan kelompok-kelompok kekuasaan dan wewenang
Tujuan dari kekuasaan adalah meraih kepuasaan dalam diri manusia. Wewenang merupakan pengakuan dari orang lain terhadap orang yang memegang kekuasaan. Terlihat pada kutipan berikut: “Dan aku berharap bahwa polisi segera datang, mengamankan sahabatku dari lascar mammon yang haus kuasa dan kebenaran. Biarlah Parang Jati berstatus tahanan Polisi sejenak. Yang penting ia terbebas dari pasukan kebenaran ini” (Utami, 2008:505).
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa kritik sosial terhadap kelompok yang menyalahgunakan wewenangnya tanpa mempertimbangkan norma hokum yang berlaku ditengah masyarakat.kritik sosial yang terlihat adalah norma hokum harus ditegakkan terhadap masyarakat yang melakukan pelanggaran norma, karena keadaan tersebut akan menggambarkan tidak ada penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang terhadap masyarakat.
Analisis kritik sosial berdasarkan interaksi sosial        
Setiap manusia mempunyai hubungan dengan lingkungannya. Hubungan itu melahirkan interaksi diantara mereka. Interaksi itu dapat berupa menegur, percakapan, atau berkelahi. Terlihat pada kutipan berikut: “Aku menyahut dengan nada memperolok. “ Mana ada clean climbing yang lokal. Teknologi itu mahal, Bung!” Matanya seperti terbuka. Aku menggagumi kebeningannya. “Jadi kalian selalu memaku dan mengebor tebing?” (Utami, 2008:35). Kutipan tersebut menggambarkan interaksi yang terjadi antar individu dalam kelompok masyarakat harus berjalan dengan baik agar tercipta rasa saling menghormati.
Penyebab Kritik Sosial Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami
Ketimpangan sosial
Ketimpangan sosial dalam kehidupan “Kabar Bin Sasus” terlihat dari prilaku dalam menjalankan norma-norma sosial. Tokoh “Kabur Bin Sasus” sering merendahkan norma-norma sosial yang berlaku masyarakat. Itulah kebiasaannya yang tidak mempercayai pengobatan modern. Terlihat pada kutipan berikut: “Soal nyawa, itu urusan saya dengan gusti Allah. Lalu lelaki itu melakukan sesuatu yang tak kupercaya. Ia menunduk dalam-dalam hingga kepalanya mencapai luka. Sebuah kelenturan seorang pesilat, Ia menghisap darah dari sana dan meludahkannya berkali-kali, sambil membaca rapalan. Aku bergidik membayangkan rasa sakit pada luka yang dihirup, serta membayangkan virus-virus rabies berpindah dari sisa liur anjing ke liur lelaki itu” (Utami, 2008:67).
Penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang
Setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain dinamakan kekuasaan, sedangkan orang yang mempengaruhi akan mendapat dukungan dan pengakuan dari masyarakat (Soekanto, 1990:294). Seperti yang diceritakan dalam novel Bilangan Fu ini kekuasaan sering disalahgunakan. Terdapat pada kutipan berikut: “Dan aku berharap bahwa Polisi segers datang, mengamankan sahabatku dari lascar mammon yang haus kuasa dan kebenaran. Biarlah Parang Jati berstatus tahanan Polisi sejenak. Yang penting ia terbebas dari pasukan kebenaran ini” (Utami, 2008:505).
Kutipan di atas menggambarkan bahwa penyalahgunaan kekusaan sering terjadi di tengah masyarakat sehingga terliahat bahwa kekuasaan dapat menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Kekuasaan dan penyalahgunaan wewenang dapat dilakukan apabila di tengah masyarakat terjadi penyimpangan tanpa mempertimbangkan norma hokum yang telah ditetapkan.
Politik
Penyimpangan sosial dalam masyarakat didasari oleh pergeseran kekuasaan. Peristiwa jatuhnya pemerintahan diktator Soeharto pada tahun 1998 mejadikan suasana politik yang tidak menentu setelah turunnya diktator. Seperti kutipan berikut: “Turunnya Jendral Soeharto didahului dan diiringi kekerasan serta penjarahan di pelbagi kota. Orang-orang china menjadi incaran utama” (Utami, 2008:505).
Kutipan di atas menggambarkan bahwa kritik disebabkan oleh situasi politik yang terjadi di tengah masyarakat yang tidak menghargai kelompok masyarakat lain. Kekerasan dan penjarahan merupakan wujud dari ketidakpastian politik yang terjadi sehingga ada kelompok masyarakat yang dirugikan oleh situasi poitik tersebut.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami ditemukan berbagai bentuk kritik sosial yang terdiri dari norma-norma sosial yaitu norma agama, norma susila, norma hokum dan norma kesopanan. Analisis kritik sosial berdasarkan nilai-nilai sosial, analisis kritik sosial kritik sosial berdasarkan kelompok-kelompok sosial, kekuasaan dan wewenang. Serta kritik sosial berdasarkan interaksi sosial. Tokoh-tokoh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat.
Dapat kita lihat bahwa banyak pelanggaran sosial yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam novel. Mereka tidak tahu atau tidak peduli bahwa pekerjaan yang dilakukannya berdosa atau tidak, benar atau salah. Novel ini telah member perbandingan bagi pembaca, dengan kata lain memberikan kritik terhadap perilaku sosial masyarakat. Dengan demikian Ayu Utami telah memberi kaca banding kepada pembaca, bahwa novel ini dapat memberikan nilai-nilai sebagai suatu kritik sosial.
Berdasarkan hasil deskripsi data dan pembahasan, peneliti mengajukan saran sebagai berikut.    1) Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk memahami kritik sosial yang terdapat dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami; 2) Dengan adanya penelitian ini diharapkan pada mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia bisa melanjutkan penelitian lain mengenai kritik sastra terutama tentang novel; 3) Untuk pembaca atau penikmat karya sastra diharapkan tidak hanya dapat menikmati sebuah karya sastra, tetapi hendaknya mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam novel tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Syartika, Riki Harib. 2014.  “Kritik Sosial Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami: Tijauan Sosiologi Sastra”. Skripsi. Padang: Program Sarjana Universitas Negeri Padang.

MAKALAH HAKIKAT PUISI



 KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, karena telah menyelesaikan makalah yang berjudul ”HAKIKAT PUISI” ini dengan baik.
Dalam penyusunan makalah ini juga banyak mendapat bantuan dan bimbingan sehingga hal itu sangat membantu penyelesaian makalah ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu.
Dengan segala kerendahan hati penyusun selalu menanti segala kritik dan saran yang membangun  dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat dalam berbagai bidang dan dapat digunakan sebagai sumbangan pikiran untuk masa yang akan datang.



Padang,  06 Februari 2016



Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................... 1
DAFTAR ISI......................................................................................................................... 2
BAB I : PENDAHULUAN.................................................................................................... 3
A.    Latar belakang...................................................................................................... 3
B.     Rumusan masalah..................................................................................................3
C.     Tujuan................................................................................................................. 4
D.    Manfaat.............................................................................................................. 4
BAB II : PEMBAHASAN..................................................................................................... 5
A.    Pengertian puisi..................................................................................................   5
B.     Kepuitisan........................................................................................................... 6
C.     Struktur puisi......................................................................................................  7
D.    Ciri-ciri puisi.......................................................................................................  8
E.     Unsur-unsur puisi................................................................................................  9
BAB III : PENUTUP...........................................................................................................  11
A.    Kesimpulan........................................................................................................ 11
B.     Saran..................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................12



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Hingga saat ini, tidak ada definisi yang baku mengenai apa itu puisi.  Banyak ahli-ahli sastra yang memberikan definisi puisi.  Namun, seperti yang dikemukakan oleh Shahnon Ahmad (dalam Pradopo. 1997: 7) bahwa bila unsur-unsur dari pendapat-pendapat itu dipadukan, maka akan didapat garis-garis besar tentang pengertian puisi yang sebenarnya.  Unsur-unsur tersebut dapat berupa: emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, sususan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaaan yang bercampur-baur.  Di situ dapat disimpulkan ada tiga unsur yang pokok. Pertama, hal yang meliputi pemikiran, ide, atau emosi; kedua, bentuknya; dan yang ketiga ialah kesannya.
Hakikat puisi ialah apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi.  Puisi merupakan karya seni  (mengandung unsur estetik) yang unsur seni dominannya mengandalkan keindahan kata, gaya bunyi, gaya kata, gaya kalimat, wacana dan tipografinya.  Kepuitisan dapat dicapai dengan bermacam-macam cara, misalnya dengan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi: persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa, dan orkestrasi; dengan pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, sarana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa dan sebagainya. Dalam mencapai kepuitisan itu penyair menggunakan banyak cara sekaligus secara bersamaan untuk mendapatkan jaringan efek puitis yang sebanyak-banyaknya, yang lebih besar daripada pengaruh beberapa komponen secara terpisah penggunaannya.  Antara unsur pernyataan (ekspresi), sarana kepuitisan, yang satu dengan yang lainnya saling membantu, saling memperkuat dengan kesejajarannya ataupun pertentangannya, semuanya itu untuk mendapatkan kepuitisan yang seefektif mungkin, seintensif mungkin (Pradopo. 1997: 13).

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian puisi ?
2.      Bagaimana kepuitisan didalam puisi ?
3.      Apa saja struktur  puisi ?
4.      Apa saja ciri-ciri puisi ?
5.      Apa saja unsur-unsur puisi ?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui pengertian puisi.
2.      Mengetahui kepuitisan didalam puisi.
3.      Mengetahui struktur puisi.
4.      Mengetahui ciri-ciri puisi.
5.      Mengetahui unsur-unsur puisi.

D.    Manfaat
1.      Menambah pengetahuan mengenai hakikat puisi.
2.      Menambah pengetahuan  mengenai dasar-dasar didalam puisi.


BAB II  
PEMBAHASAN
HAKIKAT PUISI

A.    PENGERTIAN PUISI
Secara etimologis istilah puisi berasal dari bahasa Yunani yaitu poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Menurut Kamus Istilah Sastra, puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain kedalam keadaan hatinya. Sebuah puisi juga merupakan ungkapan perasaan atau pikiran penyairnya dalam satu bentuk ciptaan yang utuh dan menyatu. Secara garis besar, sebuah puisi terdiri atas: tema, suasana, imajinasi, amanat, nada, suasana, dan perasaan. Sedangkan prinsip dasar sebuah puisi adalah berkata sedikit mungkin, tetapi mempunyai arti sebanyak mungkin.
Beberapa pengertian puisi menurut para ahli adalah sebagai berikut :
1.      Menurut Luxemburg (1984 : 175) yang dimaksud dengan teks puisi ialah teks-teks monolog yang isinya pertama-tama tidak merupakan sebuah alur; disamping itu teks puisi disajikan dengan tipografi tertentu.
2.      Menurut wirjosoedarmo puisi adalah karangan terikat oleh : (1) banyak baris dalam tiap bait (kuplet/strofa, suku karangan); (2) banyak kata dsalam tiap baris; (3) banyak suku kata dalam tiap baris; (4) rima; dan (5) irama.
3.      Menurut Altenbernd  (1970:20), puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam Bahasa berirama.
4.      Samuel taylor coloridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah.
5.      Carlyle berkata, puisi merupakan pemikiran yang bersifat muksikal. Penyair daalam menciptakan puisi itu memikirkan bunyi yang merdu sepeti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyi yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestrasi bunyi.
6.   Menurut Wordsworth, puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan.
7.   Menurut Pradopo, puisi adalah rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan.
8.      Menurut Shelley, puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup kita.
9.    Menurut Sumardi puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).
Jadi puisi adalah mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indra dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalamn manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan.

B.     KEPUITISAN
Puitis identik dengan keindahan. Tidak lengkap pembicaraan tentang kepuitisan kalau tidak menghubungkannya dengan keindahan. Wujud kepuitisan adalah sesuatu yang abstrak. Sukar dinyatakan bagaimana persisnya puitis itu,sama dengan keindahan, kepuitisan berkaitan dengan pikiran, perasaan, pengetahuan danpengalaman seseorang. Oleh karena itu kepuitisan bersifat subjektif. Sesuatu yang puitis bagi seseorang belum tentu puitis bagi orang lain.
Menurut Pradopo (1987 : 13) sesuatu disebut puitis apabila sesuatu tersebut dapat membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas, dan dapat menimbulkan keharuan. Puitis adalah sifat khas yang selalu melekat pada sajak dan bahwa tidak hanya saja yang mengandung puisi atau kepuitisan, maka pembicaraan tentang kepuitisan tidak dapat terlepas dari karya sastra. Hanya karya sastra yang mengandung kepuitisan oleh sebab itu kepuitisan berkaitan dengan Bahasa dan unsur-unsur lain yang membangun karya sastra. Intinya, kepuitisan adalah milik khas Bahasa.

C.    STRUKTUR PUISI
Struktur puisi dibentuk oleh konsentrasi dan intensifikasi. Dari konsentrasi dapat membuahkan bentukan yang konkrit serta yang abstrak. Sedangkan intensifikasi hanya membuahkan karya yang abstrak. Struktur puisi terbagi dua bagian, dengan unsur-unsur sebagai berikut :
1.      Abstrak
Struktur puisi dengan unsur abstrak mengandung arti bahwa kita tidak bisa menilai lansung dari wujud sebuah karya puisi yang bersangkutan, melainkan kita harus melihat dari refleksi yang timbul pada diri si penikmat atau adanya situasi baru pada diri si penikmat atas dampaknya dari sebuah karya puisi. Unsur-unsur struktur puisi yang bersifat abstrak yaitu Komunikasi.
Yang dimaksud komunikasi disini adalah kaitan antara sebuah karya puisi dengan lingkungan sosial serta dampaknya yang nampak pada individu penikmat. Dalam hal ini karena timbulnya situasi baru yang terdapat pada diri si penikmat setelah membaca karya puisi. Dalam perkembangan puisi saat ini, masalah komunikasi menjadi perhatian sebagai unsur bentukan dari karya puisi.
·         Peranan dan fungsi
Antara peranan sebuah karya puisi dengan fungsinya tidak dapat dipisahkan. Karena fungsi merupakan pencanangan utama dalam arah agar terbentuk sebuah karya puisi. Sedangkan peranan adalah suatu hal yang penilaiannya tergantung pada makna dar wujud puisi. Jadi peranan merupakan kelanjuatan daripada fungsi dan kadang-kadang peranan merupakan kekhasan yang horizontal pada sebuah karya puisi yang penuh makna.
2.      Kongkrit
Srtuktur puisi yang kongkrit mengandung arti bahwa dalam sebuah karya puisi tersebut kita sebagai pencipta ataupun penikmat dapat secara lansung melihat wujud puisi yang memberikan pesona. Unsur-unsur struktur puisi yang bersifat kongkrit yaitu :


·         Gaya bahasa
Yang dimaksud gaya bahasa dalam karya puisi adalah suatu alat untuk  melukiskan/menggambarkan, menegaskan inspirasi atau ide dalam bentuk bahasa dengan gaya yang mempesona.
·         Musikalisasi
Yang dimaksud dengan musikalisasi dalam sebuah karya puisi, adalah adanya keseragaman bunyi dalam kata, baris atau bait-bait puisi yang mengandung makna tertentu. Musikalisasi  inipun merupakan unsur yang dapat memberikan rangsangan atau daya pesona dalam sebuah karya puisi.
·         Kausalisasi
Kausalisasi dalam puisi dimaksudkan sebagai adanya hubungan makna, musikalisasi atau gaya bahasa. Antara kata, baris atau bait sebetulnya dalam puisi tidak akan lepas dari kausalisasinya ataupun dari karya sastra lainnya, sehingga masalah kausalisasi selalu saja ada.

D.    CIRI-CIRI PUISI
Secara umum ciri-ciri puisi adalah sebagai berikut ini :
1.      Penulisan puisi dituangkan dalam bentuk bait yang terdiri atas baris-baris, bukan bentuk paragraf seperti pada prosa dan dialog seperti pada naskah drama.
2.      Diksi yang digunakan dalam puisi biasanya bersifat kias, padat, dan indah.
3.      Penggunaan majas sangat dominan dalam bahasa puisi.
4.      Pemilihan diksi yang digunakan mempertimbangkan adanya rima dan persajakan.
5.      Setting, alur, dan tokoh dalam puisi tidak begitu ditonjolkan dalam pengungkapan.
Adapun secara lebih detail ciri-ciri puisi dibedakan menjadi dua, yaitu puisi lama dan puisi baru adalah sebagai berikut :
Ciri-ciri Puisi Lama:
  1. Anonim (pengarangnya tidak diketahui).
  2. Terikat jumlah baris, rima, dan irama.
  3. Merupakan kesusastraan lisan.
  4. Gaya bahasanya statis (tetap) dan klise.
  5. Isinya fantastis dan istanasentris
Ciri-ciri Puisi Baru:
  1. Pengarangnya diketahui.
  2. Tidak terikat jumlah baris, rima, dan irama.
  3. Berkembang secara lisan dan tertulis.
  4. Gaya bahasanya dinamis (berubah-ubah).
  5. Isinya tentang kehidupan pada umumnya.

E.     UNSUR-UNSUR PUISI
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik, bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut:
  1. Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.
  2. Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat.
  3. Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna.
  4. Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi.
  5. Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.
Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik.
 Struktur batin puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut :
  1. Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
  2. Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.
  3. Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya.
  4. Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
Struktur fisik puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut:
  1. Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.
  2. Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin.
  3. Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
  4. Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji.
  5. Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas.
  6. Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Ritme adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritme sangat menonjol dalam pembacaan puisi.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Puisi memiliki definisi sebagai pernyataan yang imajinatif, emosional, dan pengetahuan penyair yang diperoleh dari kehidupan individu dan sosialnya, sehingga mampu membangkitkan pengalaman tertentu dalam diri pembaca atau penikmatnya. Puisi memerlukan pemahaman yang lebih serius daripada pemahaman genre karya satra lain seperti cerita pendek dan novel. Diperlukan pengetahuan ekstra para pembaca untuk memahami puisi dengan karakternya yang khas dan merebut makna yang diinginkan.
 Sebagai karya yang khas, puisi memiliki ciri-ciri penanda estetika dan struktur-struktur yang membangun di dalamnya. Puisi dapat membawa pengaruh positif di dunia pendidikan dan akan membawa pengaruh pula pada suatu kesadaran bagi masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Terciptanya kesadaran berbangsa dan bernegara ini akan membawa pula pada suatu kesadaran untuk menghargai hasil kebudayaan itu sendiri, khususnya terhadap karya sastra terutama puisi.
B.     Saran
Mengingat keterbatasan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh penulis, maka untuk mendapat pemahaman yang lebih mendasar lagi, disarankan kepada pembaca untuk membaca referensi yang telah dilampirkan pada daftar pustaka. Dengan demikian pula diharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca, agar makalah ini dapat memberikan pengetahuan dan bermanfaat dalam berbagai bidang dan dapat digunakan sebagai sumbangan pikiran untuk masa yang akan datang.






DAFTAR PUSTAKA

Atmazaki. 1993. Analisis Sajak: Teori, Metode Dan Aplikasi. Bandung: Angkasa.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: UGM Press.
Jalil, Dianie Abdul. 1990. Teori Dan Periodisasi Puisi Indonesia. Bandung: Angkasa.